Rabu, 27 November 2013

sukses itu diri kita



Sukses itu Diri kita sendiri
By: Rufi Aulia Asmarani
Pagi yang cerah. Pagi itu adalah pagi dimana waktu untuk para siswa-siswi SMP yang baru lulus untuk mendaftar ke SMA yang mereka tuju. Begitu juga dengan Lia, siswi yang baru saja lulus itu akan mendaftar ke SMA di daerah sekitarnya. Lia buka anak yang pintar, namun semangatnya untuk sekolah sangat tinggi karena mengingat orang tuanya selalu memberi motifasi untuknya. Hari itu Lia mendaftar ke SMA sendiri karena Aris sahabatnya telah berangkat erlebih dahulu. Datang dan mendaftar dihari pertamanya membuat Lia nerves melihat wajah-wajah baru yang ada di samping kiri kanannya. Setelah selesai lalu menjalani tes penerimaan siswa baru dan Lia pun di terima di SMA tersebut. Disitulah kehidupan SMA nya di mulai.
Di awalinya dengan adanya Masa Orientasi Siswa (MOS) Lia mengenal orang baru. Lia ingin mengubah hidupnya karena dia sudah mulai merasa memang harus berubah. Setelah MOS selesai mulailah tahun ajaran baru. Mulai kenal kehidupan, kenal teman baru, kenal kenal semua yang baru. Berjalannya hari Lia mulai aktif ke segala arah, mulai dari ekskul dan organisasi, namun yang hanya dia minati adalah satu olah raga yaitu Basket dan Musik. Lia hanya ingin dua itu sampai dia pun mengikuti ekskul itu. Awal mulanya Lia mengikuti ekskul musik karena Lia memang suka musik mulai SMP dan ingin sekali perfom di depan orang banyak. Awalnya pas ikut ekskul musik Lia merasa enjoy, namun lama kelamaan ada perasaan jenuh saat disana, akhirnya Lia berniat hanya menekuni ekskul olah raganya, yaitu basket.
Lia mulai tertarik dengan olah raga berat itu karena menurutnya olah raga itu menantang dan juga bisa mengubah kehidupannya dari yang dulu semasa di SMP Lia sangat pasif lalu berubah ke aktif dengan mengikuti hal tersebut. Awal masa perkenalan biasa saja karena kosong pelatih jadi hanya bisa berman dengan sendirinya, namun lambat laun kakak senior pun mengajari secara perlahan-lahan.
Awalnya peminatpun banyak, namun karena mulai awal masih kosong pelatih jadi membuat para peminat jenuh karena kekosongan tersebut. Namun itu tidak membuat patah semangat pada Lia untuk terus mengikuti ekskul basket. Lambat laun pun peminat basket benar-benar tidak ada, hanya tinggal Lia dan Dwi saja yang benar-benar bersungguh-sungguh mengikuti ekskul basket. Namun hal itu tidak pernah menyurutkan niat Lia untuk terus latihan. Setiap latihan Lia selalu belajar pada kakak senior cowok, karena kakak senior cewek tidak pernah datang waktu latihan. Dan disaat itulah hidup Lia benar-benar berubah. Dari sikap, tingkah laku, pola fikir dan hampir semuannya. Namun sedikit demi sedikit hal itu juga di kendalikan oleh Lia.
Hidup Lia sepertinya benar-benar berubah. Lia mulai bisa bergaul dengan lingkungan sekitar dan juga dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.
Awal mulanya semua orang disana kaku dan dingin, mungkin karena belum mengenal satu sama lainnya, pasti lambat laun semua akan berubah. Setelah berjalan cukup lama dan anggota pun mulai banyak yang kluar dari club karena memang mereka merasa jenuh atas ketidak adanya pelatih. Namun tak membuat surut semangat untuk latihan sebagian yang ada.
Setelah satu tahun berjalan tanpa pelatih, lalu pembina mengusulkan adanya pelatih untuk team basket Lia dan kawan-kawan. Di sambutnya Pak pelatih dengan senang oleh Lia dan teman-temannya. Akhirnya team mula berjalan dengan pelatih yang baru. Diajari teori mulai dari awal sampai akhir lalu di latih untuk mulai bermain di lapangan. Awalnya Lia takut dia tidak akan bisa, namun karena Lia ingin bisa, jadi apapun yang terjadi harus di lakukan oleh Lia sampe tulangnya patah sekalipun. Lia tak pernah perduli apapun yang ada disekitarnya. Yang hanya dia pikirkan hanya bisa dan sanggup. Lia selalu memperhatikan dan mempelajari teknik-teknik yang dia ketahui dan mempraktekkannya. Dan suatu ketika Lia tak pernah sadar kalau ada seseorang yang baru disekelilingnya, namun Lia tak pernah memperhatikan hal tersebut karena menurutnya hal itu tidak terlalu penting dalam kehidupannya.
Pada saat yang lain Lia merasa butuh motifator pada dirinya untuk terud bersemangat dalam belajar, namun hanya semata-mata untuk memotifasi dirinya agar tetap semangat kesekolah. Lia mecari sang motifator namun tak ada yang cocok dengan apa yang dia inginkan. Dan suatu hari pas latihan basket Lia menemukan sang motifator itu. Seorang cowok, pemain basket yang selama ini beum di kenalnya. Padahal sudah lama Lia dan cowok itu latihan, namun Lia baru menyadari bahwa dia itu benar-benar ada. Dicarilah informasi cowok tersebut itu oleh Lia. Setelah itu Lia menjadikan cowok itu sebagai motifator sekolah. Mekipun Lia tidak pernah berbincang dengannya namun Lia tetap enjoy menjadikan cowok itu sebagai motifator disekolah.
Lambat laun Lia tahu jelas siapa cowok itu. Cowok kaya dan tajir yang di jadikn sebagai motifator oleh Lia. Namun Lia bukan ngefans sama harta dan tahtanya, namun ada daya tarik yang lain dari cowok tersebut. Lama elamaan cowok tersebut juga terlihat kalau dia juga buka anak yang baik-baik, namun Lia tetap mempertahannya cowok itu sebaga motifatornya. Meskipun kejelekkannya sering diungkap dan dibuat bahan perbincangan namun Lia tetap mengaguminnya sebagai motifator. Lalu terjangkitlah berbagai masalah kepada cowok itu sehingga membuat cowok itu harus keluar dari kehidupan Lia, dari otak dan fikirannya. Karena mungkin Lia salah memilih motifator. Tiada lagi motifasi untuk lia. Hanya orang tuanya lah yang memotifasinya. Namun Lia tetapsemangat dalam belajar sampai dia benar-benar meraih apa yang dia inginkan.
Motifator itu benar-benar hilang untuk Lia. Semangatnya sedikit berkurang karena tiada lagi cowok itu sebagai penyemangatya bersekolah. Namun lambat laun Lia berfikir, sekolah tidak untuk memikirkan hilangnya sesuatu penyemangat, namun meskipun tiada alat sebagai penyemangat Lia pun harus semangat dan bangkit pada dirinya sendiri agar dapat meraih cita-cita yang Lia inginkan.

Selasa, 16 Juli 2013

Resep



Bumbu Pecel
Alat dan Bahan
Kacang kulit  (11/2 ons)
Gula merah  (2 buah)
Gula putih (secukupnya)
Bawang merah (2 buah)
Bawang putih (2 buah)
Garam (secukupnya)
Kencur (2 buah)
Minyak goreng (secukupnya)
Daun jeruk (4 lembar)
Cabe merah (disesuaikan sesuai selera)


Cara pembuatan
1.       Goreng kacang kulit yang telah dikupas kulitnya hingga matang dengan minyak goreng
2.       Setelah selesai dan masak, tumbuk sampa halus kacang-kacang tersebut.
3.       Tumis bumbu ( bawang merah, bawang putih, kencur, cabe) dengan minyak goreng
4.       Siapkan alat tumbukan (Cuek) dan setelah itu menumbuk bumbu-bumbu yang telah ditumis tersebut. Diberi sedikit garam.
5.       Setelah halus bumbu tadi lalu di tumbuk lagi dengan gula merah hingga merata.
6.       Setelah merata bumbu tersebut yang telah tercampur dengan gula merah maka dituangkan ke kacang yang telah dihaluskan tadi. Diaduk sampai rata.
7.       Setelah itu siap dihidangkan dengan sayuran dan menjadi pecel yang istimewa.