Sukses itu Diri kita sendiri
By: Rufi Aulia Asmarani
Pagi yang
cerah. Pagi itu adalah pagi dimana waktu untuk para siswa-siswi SMP yang baru
lulus untuk mendaftar ke SMA yang mereka tuju. Begitu juga dengan Lia, siswi
yang baru saja lulus itu akan mendaftar ke SMA di daerah sekitarnya. Lia buka
anak yang pintar, namun semangatnya untuk sekolah sangat tinggi karena
mengingat orang tuanya selalu memberi motifasi untuknya. Hari itu Lia mendaftar
ke SMA sendiri karena Aris sahabatnya telah berangkat erlebih dahulu. Datang
dan mendaftar dihari pertamanya membuat Lia nerves melihat wajah-wajah baru
yang ada di samping kiri kanannya. Setelah selesai lalu menjalani tes
penerimaan siswa baru dan Lia pun di terima di SMA tersebut. Disitulah
kehidupan SMA nya di mulai.
Di awalinya
dengan adanya Masa Orientasi Siswa (MOS) Lia mengenal orang baru. Lia ingin
mengubah hidupnya karena dia sudah mulai merasa memang harus berubah. Setelah
MOS selesai mulailah tahun ajaran baru. Mulai kenal kehidupan, kenal teman
baru, kenal kenal semua yang baru. Berjalannya hari Lia mulai aktif ke segala
arah, mulai dari ekskul dan organisasi, namun yang hanya dia minati adalah satu
olah raga yaitu Basket dan Musik. Lia hanya ingin dua itu sampai dia pun
mengikuti ekskul itu. Awal mulanya Lia mengikuti ekskul musik karena Lia memang
suka musik mulai SMP dan ingin sekali perfom di depan orang banyak. Awalnya pas
ikut ekskul musik Lia merasa enjoy, namun lama kelamaan ada perasaan jenuh saat
disana, akhirnya Lia berniat hanya menekuni ekskul olah raganya, yaitu basket.
Lia mulai
tertarik dengan olah raga berat itu karena menurutnya olah raga itu menantang
dan juga bisa mengubah kehidupannya dari yang dulu semasa di SMP Lia sangat
pasif lalu berubah ke aktif dengan mengikuti hal tersebut. Awal masa perkenalan
biasa saja karena kosong pelatih jadi hanya bisa berman dengan sendirinya,
namun lambat laun kakak senior pun mengajari secara perlahan-lahan.
Awalnya
peminatpun banyak, namun karena mulai awal masih kosong pelatih jadi membuat
para peminat jenuh karena kekosongan tersebut. Namun itu tidak membuat patah
semangat pada Lia untuk terus mengikuti ekskul basket. Lambat laun pun peminat
basket benar-benar tidak ada, hanya tinggal Lia dan Dwi saja yang benar-benar
bersungguh-sungguh mengikuti ekskul basket. Namun hal itu tidak pernah
menyurutkan niat Lia untuk terus latihan. Setiap latihan Lia selalu belajar
pada kakak senior cowok, karena kakak senior cewek tidak pernah datang waktu
latihan. Dan disaat itulah hidup Lia benar-benar berubah. Dari sikap, tingkah
laku, pola fikir dan hampir semuannya. Namun sedikit demi sedikit hal itu juga
di kendalikan oleh Lia.
Hidup Lia
sepertinya benar-benar berubah. Lia mulai bisa bergaul dengan lingkungan
sekitar dan juga dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.
Awal mulanya
semua orang disana kaku dan dingin, mungkin karena belum mengenal satu sama
lainnya, pasti lambat laun semua akan berubah. Setelah berjalan cukup lama dan
anggota pun mulai banyak yang kluar dari club karena memang mereka merasa jenuh
atas ketidak adanya pelatih. Namun tak membuat surut semangat untuk latihan
sebagian yang ada.
Setelah satu
tahun berjalan tanpa pelatih, lalu pembina mengusulkan adanya pelatih untuk
team basket Lia dan kawan-kawan. Di sambutnya Pak pelatih dengan senang oleh
Lia dan teman-temannya. Akhirnya team mula berjalan dengan pelatih yang baru.
Diajari teori mulai dari awal sampai akhir lalu di latih untuk mulai bermain di
lapangan. Awalnya Lia takut dia tidak akan bisa, namun karena Lia ingin bisa,
jadi apapun yang terjadi harus di lakukan oleh Lia sampe tulangnya patah
sekalipun. Lia tak pernah perduli apapun yang ada disekitarnya. Yang hanya dia
pikirkan hanya bisa dan sanggup. Lia selalu memperhatikan dan mempelajari
teknik-teknik yang dia ketahui dan mempraktekkannya. Dan suatu ketika Lia tak
pernah sadar kalau ada seseorang yang baru disekelilingnya, namun Lia tak
pernah memperhatikan hal tersebut karena menurutnya hal itu tidak terlalu
penting dalam kehidupannya.
Pada saat yang
lain Lia merasa butuh motifator pada dirinya untuk terud bersemangat dalam
belajar, namun hanya semata-mata untuk memotifasi dirinya agar tetap semangat
kesekolah. Lia mecari sang motifator namun tak ada yang cocok dengan apa yang
dia inginkan. Dan suatu hari pas latihan basket Lia menemukan sang motifator
itu. Seorang cowok, pemain basket yang selama ini beum di kenalnya. Padahal
sudah lama Lia dan cowok itu latihan, namun Lia baru menyadari bahwa dia itu
benar-benar ada. Dicarilah informasi cowok tersebut itu oleh Lia. Setelah itu
Lia menjadikan cowok itu sebagai motifator sekolah. Mekipun Lia tidak pernah
berbincang dengannya namun Lia tetap enjoy menjadikan cowok itu sebagai
motifator disekolah.
Lambat laun
Lia tahu jelas siapa cowok itu. Cowok kaya dan tajir yang di jadikn sebagai
motifator oleh Lia. Namun Lia bukan ngefans sama harta dan tahtanya, namun ada
daya tarik yang lain dari cowok tersebut. Lama elamaan cowok tersebut juga
terlihat kalau dia juga buka anak yang baik-baik, namun Lia tetap
mempertahannya cowok itu sebaga motifatornya. Meskipun kejelekkannya sering
diungkap dan dibuat bahan perbincangan namun Lia tetap mengaguminnya sebagai
motifator. Lalu terjangkitlah berbagai masalah kepada cowok itu sehingga
membuat cowok itu harus keluar dari kehidupan Lia, dari otak dan fikirannya.
Karena mungkin Lia salah memilih motifator. Tiada lagi motifasi untuk lia.
Hanya orang tuanya lah yang memotifasinya. Namun Lia tetapsemangat dalam
belajar sampai dia benar-benar meraih apa yang dia inginkan.
Motifator itu
benar-benar hilang untuk Lia. Semangatnya sedikit berkurang karena tiada lagi
cowok itu sebagai penyemangatya bersekolah. Namun lambat laun Lia berfikir,
sekolah tidak untuk memikirkan hilangnya sesuatu penyemangat, namun meskipun
tiada alat sebagai penyemangat Lia pun harus semangat dan bangkit pada dirinya
sendiri agar dapat meraih cita-cita yang Lia inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar